Misteri penjaga makam
Malam di Pemakaman Jeruk Purut selalu memiliki napasnya sendiri. Dingin, lembap, dan sarat dengan bisikan tanah tua. Bagi Mbah Seno, lelaki 60 tahun dengan garis-garis wajah sedalam ukiran kayu jati, suara-suara itu bukan lagi hal asing. Sudah tiga puluh tahun ia menjadi penjaga makam di sana.
Tugas Mbah Seno sederhana: membersihkan rumput liar, menyapu daun kamboja yang gugur, dan memastikan tak ada peziarah yang berbuat tidak sopan. Namun, ada satu aturan tidak tertulis yang selalu ia pegang teguh: Jangan pernah menyapu area belakang setelah pukul sembilan malam.
Malam itu, gerimis tipis membasahi bumi. Jam bambu di pos penjagaan berdentang sepuluh kali. Saat Mbah Seno hendak menyeduh kopi hitamnya, sayup-sayup terdengar suara yang sangat dikenalinya—suara sapu lidi yang menggesek tanah kering.
Srek... srek... srek...
Mbah Seno tertegun. Ia memandangi sapu lidinya sendiri yang bersandar santai di sudut pos. Suara itu datang dari area belakang, dekat pohon beringin tua yang dipercaya sebagai bagian tertua dari komplek makam tersebut.
Sembari memegang lampu senter tua berdaya redup, Mbah Seno melangkah perlahan. Sepatunya menginjak genangan air halus, menimbulkan derak pelan. Makin dekat ke pohon beringin, suara gesekan itu makin nyaring, diselingi gumaman halus seperti nyanyian tarian klasik Jawa.
Langkah Mbah Seno terhenti di balik sebuah nisan tua tanpa nama.
Di sana, di bawah remang cahaya bulan yang tertutup awan, terlihat sesosok tubuh membelakanginya. Sosok itu mengenakan pakaian penjaga makam—seragam berwarna cokelat kusam yang persis seperti milik Mbah Seno—sedang telaten menyapu daun-daun kamboja.
"Siapa di sana?" bisik Mbah Seno, suaranya berusaha tetap tenang walau tenggorokannya mendadak kering.
Sosok itu berhenti bergerak. Suara gesekan sapu seketika lenyap. Malam mendadak sunyi, bahkan suara jangkrik pun bungkam.
Perlahan, sosok itu mulai memutar tubuhnya. Mbah Seno mengarahkan sorot senternya ke wajah orang tersebut. Cahaya menyinari seragam yang bernoda tanah basah, naik ke pundak, lalu menuju wajahnya.
Jantung Mbah Seno seolah berhenti berdetak.
Wajah di hadapannya bukan wajah asing. Itu adalah wajah yang ia lihat setiap pagi di cermin: mata sayu dengan kantung mata tebal, kerutan mendalam di dahi, dan tahi lalat kecil di dekat bibir kiri.
Sosok itu adalah dirinya sendiri.
Namun, "kembaran" itu tersenyum—sebuah senyuman dingin yang teramat lebar hingga sudut bibirnya hampir menyentuh telinga. Ia menunjuk ke arah sebuah lubang kubur yang baru digali tadi siang, belum diisi, dan masih menganga di dekatnya.
> "Waktumu sudah habis, Seno... Sekarang giliranmu yang menyapu dari bawah sana," bisik sosok itu. Suaranya bergema bukan di udara, melainkan langsung di dalam kepala Mbah Seno.
>
Lutut Mbah Seno lemas. Senter di tangannya jatuh ke tanah, berkedip sebentar, lalu padam. Dalam kegelapan total, Mbah Seno merasakan hembusan napas dingin tepat di belakang telinganya.
Keesokan harinya, beberapa peziarah yang datang pagi-pagi bingung karena pos penjagaan kosong. Kopi di cangkir seng Mbah Seno masih menyisakan kehangatan tipis.
Saat mereka berjalan menuju area belakang dekat pohon beringin tua, mereka menemukan sapu lidi milik Mbah Seno tergeletak rapi di atas gundukan tanah baru. Di atas gundukan itu, tertulis sebuah papan kayu sederhana dengan nama yang diukir rapi: Seno (1966 – 2026).
Tidak ada yang tahu siapa yang menggali dan menutup kubur itu malam sebelumnya. Namun, warga lokal berbisik bahwa sampai hari ini, jika Anda melewati Pemakaman Jeruk Purut lewat tengah malam, Anda masih bisa mendengar suara gesekan sapu lidi yang tak pernah berhenti.
Advertisement (End-Post)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar